MENGAPLIKASIKAN MAKNA TRANSENDENTAL AL QURAN BAGI PEMUDA DI ERA DIGITAL

 Al quran adalah firman tuhan yang berisikan tentang berbagai macam persoalan yang dialami manusia baik itu berupa masalah kehidupan,kemiskinan,dan lain sebagainya. Dalam posisi ini al quran sebagai petunjuk memberikan solusi terhadap manusia untuk meghadapi masalahnya serta mengarahkan manusia le satu cara hidup tertentu. Memang benar al quran telah final cakupan ayatnya. Dan benar pula bahwa al quran telah disistematisasi dan diatur kerangka ayatnya hingga menjadi satu versi yang baku. Hal itu senada dengan firman Allah SWT dalam surat Al Isra:115:وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ 

Artinya: Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur'an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.(QS. Al Isra:115)Akan tetapi kebutuhan umat manusia,khususnya bagi kaum pemuda belum tersahuti hanya dengan sistematisasi, percetakan dan pendistribusian saja. Maka ada kebutuhan mendasar lagi yaitu untuk menangkap pesan atau hikmah serta isi petunjuk dari Al Quran secara persis, terperinci dan komprehensif. 

Dengan adanya fungsi al quran sebagai petunjuk itulah yang membedakan Al Quran dengan filsafat, karena Al Quran adalah kitab yang menjelaskan dan dimudahkan untuk dipahami dan diingat. Sehingga feedback yang akan didapatkan oleh manusia dalam memahami isi petunjuk Al Quran adalah menyinari akalnya dan menggerakkan hatinya. Allah menurunkan Al Quran tiada lain agar makna-maknaya diserap dan rahasia-rahasianya diketahui oleh manusia.

Salah satu isi penting yang dapat kita temukan di Al Quran adalah Allah meciptakan manusia supaya menjadi khalifah di bumi.Darri sinilah muncul pertanyaan   bagaimana memajukan harkat dan martabat  manusia dalam rangka mengemban khalifah di muka bumi ini?. Suatu pertanyaan mendasar untuk kita sebagai manusia. Dalam hal ini tentu saja jawabannya tidak lain adalah kaum remaja atau pemuda yang akan meneruskan estafet di masa yang akan datang. Sebagaimana ungkapan pepatah dalam bahasa arab :” Inna fi yadi al-syubban amr al-ummah, wa fi iqdamiha hayataha” yang artinya sesungguhnya pada tangan pemuda terletak urusan umat ini dan pada kemajuan mereka terletak hidupnya umat ini. Tak dapat dipungkiri memang kenyataan itulah yang sedang kita hadapi,terlepas dari berbagai masalah yang sedang ada di negeri tercinta ini. Pada dasarnya sebagaimana di dalam kamus mu’ajamul arab terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara dua term pemuda dalam kata bahasa arab yaitu antara  شاب  dan فتى . Penggunaan dan pemilihan kata sangat penting untuk kita telusuri guna mendapatkan kesesuaian makna yang tepat untuk kaum pemuda sehingga mereka dapat meresapi dan mengahayati serta merefleksikan apa yang termuat di dalam kata tersebut. 

Kata فتى ternyata lebih kompleks maknaya daripada kata شاب, di dalam kata yang pertama mengandung arti bahwa pemuda yang permulaan masa remajanya di antara مراهقة (masa puber) dan رجولة (kedewasaan) sedangkan شاب artinya seseorang yang sudah baligh,akan tetapi belum mempunyai karakter kedewasaan. Oleh karena itulah Al Quran menggunakan kata fataa didalam beberapa ayatnya. Disinilah makna transcendental dibutuhkan, untuk menginterpretasikan di kehidupan manusia,khususnya bagi kaum remaja. Makna transcendental yang dimaksud adalah suatu kategori yang bersifat abstrak yang memiliki aspek kerohanian dan spiritual. Disadari atau tidak, secara alamiah manusia dalam tinjauan kasus ini remaja sentralnya mendekati apa yang baik dan menghindari apa yang buruk bagi mereka. Telaah ini mengasumsikan integrasi gerak dimasa yang akan datang,bagaimana menurut pandangan al quran bagi remaja dalam melihat kenyataan di era digital ini.

Solusi yang dianjurkan oleh Al Quran diantaranya ialah tafaqquh fiddin(bersungguh-sungguh di dalam agama). Suatu problema yang fundamental yang sedang di alami oleh kaum remaja. Arus globalisasi dan masyarakat agricultural membuat para remaja seakan menganggap belajar agama sebagai yang kolot dan kuno. Padahal di era serba digital ini, kekhawatiran muncul dengan banyaknya distorsi di dalam konten digital. Dalam konteks ini, nabi sudah memprediksi dengan sabdanya yang berbunyi antum a’lamu bisyuuni dunyakum(kalian lebih tahu tentang urusan/perkara dunia kalian). Maka  untuk mencegah pendistorsian di era digital ini perlu adanya spiritual dan mengaplikasikan makna transendental  dalam tafaqquh fidin yang harus dimasukkan dalam era digital berupa mengisi medsos dengan ajaran al quran yang sesuai kaidahnya . Ini penting diimplementasikan mengingat kita sudah tidak hidup di era nabi yang mana kalau dahulu para sahabat menghadapi musuh demi memperjuangkan agama, maka tugas kita bagaimana caranya agar al quran tetap eksis dan dilestarikan sampai hari kiamat nanti. Sebagaimana firman Allah dalam QS. At Taubah ayat 122:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ ࣖ

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.

Tafsir Ringkas Kemenag RI


Dalam asbabun nuzulnya yang di jelaskan di kitab tafsir jalalain bahwa sebetulnya semua masyarakat nabi ingin berperang bersama nabi,akan tetapi hal itu tidak dianjurkan dan seyogyanya ada suatu kelompok yang tetap tinggal. Mengingat adanya masyarakat badui yang membutuhkan ilmu agama. Menurut  qoidah ulumul quran terdapat kaidah yang berbunyi al ibrah bikhusul lafdhi la biumumil lafdhi (ibrah dengan kehususan lafadz bukan keumuman lafadz). Dengan menggunakan kaidah tersebut sangat memungkan bila yang dimaksud kelompok tersebut adalah para cendekiawan dan sebagian golongan remaja. Atas dasar itu seberapa besar usaha kita sebagai kaum remaja dapat memantaskan diri untuk menjadi golongan tersebut dan mengupayakan di era digital ini. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RAGAM BAHASA DALAM PENULISAN TAFSIR DI INDONESIA

SEJARAH MUNCULNYA TAFSIR DI INDONESIA