Tafsir al-Qur’an di Indonesia ditulis dengan bahasa dan aksara yang beraneka ragam. Dalam hal bahasa, bahasa-bahasa lokal yang lahir dari ragam etnis yang ada di Nusantara, seperti bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Madura, dan Bugis, dipakai para sarjana Muslim di Indonesia dalam penulisan tafsir al-Qur’an, meskipun frekuensi pemakaiannya dalam konteks sosial dan historis tidak berjalan secara linier. Demikian juga halnya dengan aksara-aksara yang tumbuh di Nusantara, seperti aksara Cacarakan dan Lontara, dipakai para sarjana Muslim di Indonesia dalam penulisan tafsir al-Qur’an secara tidak linier. Selain bahasa dan aksara lokal, sejak islamisasi di Nusantara, aksara Arab juga menjadi salah satu pilihan yang dipakai dalam penulisan khazanah keagamaan dengan mempertautkan pada bahasa-bahasa lokal. Peristiwa ini terjadi karena praktik vernakularisasi (pembahasalokalan) keilmuan Islam. Lahirlah aksara Jawi (bahasa Melayu ditulis memakai aksara Arab) dan aksara Pegon (bahasa Jawa, Sunda, da...